Kabar Alumni

Jelajah Putri: Mimpi Besar dan Kerja Keras

Sepak-terjangnya di dunia pendakian tak dapat diragukan. Dengan membawa misi pendidikan, perempuan ini sedang berupaya untuk menjadi orang Indonesia dan perempuan Asia Tenggara pertama yang menyelesaikan The Explorers Grand Slam, predikat yang didapat ketika seseorang berhasil mendaki 7 puncak tertinggi di 7 benua dan menjelajah ke 2 kutub, Utara dan Selatan. Tak dinyana, sosok ini pernah menimba ilmu di Matauli dan mungkin menjadi salah satu alumni terbaik hingga saat ini. Penasaran bagaimana kisahnya? Simak selengkapnya di #Tokohoftheday IKAMA kali ini.

Bermula dari proyek Jelajah Putri yang diinisiasi olehnya, kisah Diansyah Putri Fitri Handayani kini ditulis di berbagai media. Yang belum banyak diketahui oleh publik adalah, jauh sebelum misinya untuk mendapatkan predikat The Explorers Grand Slam, ia adalah seorang pekerja keras di bidang yang tidak biasa bagi seorang wanita, Field Engineer di Drilling and Measurements, yang terbiasa bekerja di pengeboran minyak dan gas lepas pantai. Seolah ingin membuktikan pada dunia, bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha, dari sanalah Putri yang di rumah biasa dipanggil “Ui” ini memulai langkah untuk meraih mimpinya. Mimpi besar berawal dari langkah kecil, mungkin kalimat yang tepat untuknya.

 

Putri menjalani masa SMA sebagai anak kos, yang menjadikannya lebih mandiri. Ekstrakurikuler (ekskul) marching-band dan tari mengisi hari-harinya di tengah kesibukan belajar. Meskipun ia sempat kecewa, karena niatnya untuk melanjutkan ekskul Pramuka yang digelutinya sejak SMP tidak tercapai karena saat itu kegiatan Pramuka memang belum ada di SMA N 1 Matauli Pandan. Hobinya mendaki gunung ia salurkan dengan mendaki bukit di belakang sekolah.

 

Sejauh ingatannya, masa-masa setelah lulus SMA dan melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia (UI) tahun 2000 adalah masa yang cukup berat. “Kalau waktu SMA kan sekolah gratis, hanya mikir bayar kos, itu juga yang jadi alasan kenapa Matauli favorit, sekolah unggulan tapi free, jadi sangat terbantu untuk orang susah kayak Kak Putri,” ujarnya. Ia bercerita, ketika masuk UI, Indonesia baru saja mengalami reformasi dan subsidi pendidikan dicabut, sehingga biaya kuliah di UI naik 3 kali lipat dari sebelumnya.

 

“Nah, itu beratnya dari segi biaya lumayan berasa, ketika mengajukan permintaan keringanan uang kuliah, waktu itu harus menyertakan rekening listrik dan slip gaji orang-tua untuk membuktikan bahwa kita memang berasal dari keluarga yang kurang mampu”, ceritanya. Ia melanjutkan, betapa tidak enaknya menjadi orang miskin yang harus membuktikan kemiskinannya. “Mamak kakak cuma jualan, Papah kerja serabutan, jadi harus minta Surat Miskin dari Kepala Desa,” katanya. Ia pun menjalani sesi wawancara dengan panitia pemberi keringanan uang kuliah. “Sebenarnya maksudnya baik, dengan wawancara mereka ingin memastikan kalau yang menerima bantuan itu memang butuh. Cuma karena kak Putri memang benar-benar butuh, rasanya tuh gimana ya, udah miskin, harus bikin pernyataan miskin diatas kertas, diwawancara lagi supaya tahu bahwa gue itu benar-benar miskin, sedih lah pokoknya” ujarnya.

 

Menurutnya, jaman itu benar-benar tidak mengenakkan, ujian hidup yang ia jalani begitu banyak. Pun begitu, Putri tidak menyerah. Hal itu ia jadikan motivasi agar cepat lulus. Putri juga merasakan betapa pentingnya berorganisasi. Aktif berorganisasi membantu jalannya mendapatkan beasiswa bahkan, ia pun sering membantu mengurus keringanan biaya kuliah untuk mahasiswa baru. Ia ingat bahwa ia pernah berada pada kondisi itu, datang dari daerah dan harus bersaing dengan anak-anak Ibu kota dengan fasilitas yang memadai dan gaya hidup yang jelas berbeda.

 

Perempuan tangguh memang julukan yang tepat disematkan untuknya. Ia merupakan perempuan pertama yang terpilih sebagai Ketua Ikatan Mahasiswa Sipil di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (IMS-FTUI). Setelah itu, ia menjadi perempuan pertama yang menjadi kandidat ketua BEM-FTUI, dan walaupun akhirnya tidak terpilih, ia tetap memilih terlibat di BEM-FTUI sebagai Ketua Bidang Sosial Kemasyarakatan. Di bangku kuliah, jiwa sosial dan petualangnya kembali terasah. Putri tergabung dalam Kamuka-Parwata (KAPA) FTUI, kelompok pecinta alam dikampusnya. “Dari semester awal sudah sering ikut kegiatannya tapi jadi anggota resmi waktu semester akhir,” jelasnya. Kegiatan pecinta alam ini mengajarkannya banyak hal mulai dari survival skills sampai program sosial kemasyarakatan didaerah-daerah sekitar mereka berpetualang. Ia juga sempat menjabat sebagai Ketua Atletik UI, dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan olah-raga ditingkat fakultas dan universitas.

 

Organisasi juga lah yang mengenalkannya pada profesi yang ia jalani saat ini. “Tahu Schlumberger dari senior di BEM-FTUI yang sudah lebih dulu kerja di sana. Jaman dulu gak ada campus recruitment, jadi apply online” katanya. Tadinya, Putri ingin melanjutkan S2 di program gabungan NTU dan Stanford, tetapi bahasa menjadi kendala. Mata kuliah Bahasa Inggris nya C dan akhirnya mengulang karena tidak ingin ada nilai C di transkrip nilainya. Saat diterima di Schlumberger sebagai international mobile employee, recruiter nya bahkan sempat berkata, “there are thousands people line-up for this job and your english was the worst, so either you make it in 6 months or you’re out”. Meski begitu, ia tetap menjalani pekerjaannya dengan tekun, dan dengan penghasilan yang jauh diatas rata-rata lulusan S1 di Indonesia waktu itu, pikirnya “kalaupun dipecat setelah 6 bulan, masih lumayan ada tabungan,” katanya sambil tertawa.

 

Penempatan Putri yang pertama di Qatar merupakan pengalaman pertamanya membuat paspor. Walaupun difasilitasi oleh kantornya, tetap banyak kekonyolan terjadi saat check-in pertama kali di bandara, karena memang itu pertama kalinya ia berpergian ke luar negeri.

 

Berangkat ke offshore naik helicopter dan menjadi perempuan satu-satunya di rig adalah pengalaman berikutnya bagi Putri. Bekerja dengan orang-orang dari berbagai negara juga merupakan pengalaman yang berharga baginya, “pola pikir dan wawasan kita jadi lebih terbuka dengan sering bersosialisasi dengan orang-orang dari negara, budaya, perawakan, agama, kepercayaan, dan nilai-nilai hidup yang berbeda”, ujarnya.

 

Lingkungan kerjanya sendiri mempunyai tantangan yang tak kalah sulitnya. “Dulu, banyak rig yang tidak punya kamar terpisah antara laki-laki dan perempuan, jadi ketika harus berbagi kamar dengan 3 orang laki-laki yang baru di kenal, gak nyaman banget rasanya”, katanya. Terkadang, gaya berbicara rekan kerjanya ketika berdiskusi atau berselisih paham terdengar kasar, hingga terbersit di hatinya “this is not my world”. Namun seiring berjalannya waktu, walaupun masih banyak yang harus dibenahi, industri minyak dan gas sendiri semakin membaik dari segi fasilitas dan lingkungan kerja bagi perempuan, dan Putri pun lebih memaklumi resiko pekerjaannya yang memang didominasi oleh para pria.

 

Lalu, bagaimana dengan hobi bertualangnya mendaki gunung?

 

“Hobi itu jalan lagi sekarang, dulu waktu kerja ya gak bisa, 4 tahun pertama gak ada naik gunung sama sekali, karena di offshore terus-terusan, bisa sampai 300 hari per tahun. Kalau vacation, paling jalan-jalan kemana atau pulang ketemu keluarga dan teman-teman di Indonesia”. Setelah 4 tahun di Qatar, Putri mendapatkan promosi dan penugasan ke Amerika sebagai manajer yang merupakan posisi kantor, jadi tidak ke lapangan atau di tengah laut seperti sebelumnya. Disinilah ia kembali mempunyai kesempatan untuk menjalaninya hobinya, mulai dari indoor wall-climbing, outdoor rock-climbing dan hiking di berbagai taman nasional di Amerika.

 

Setelah 1.5 tahun bekerja di Amerika, Putri meninggalkan pekerjaannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 disana. Tahun 2012, ia berhasil menyelesaikan Master of Business Administration (MBA) dari University of Pittsburgh, dan kembali ke Indonesia dan bekerja di McKinsey & Company, sebuah strategy & management consulting firm terkemuka di dunia. Saat itulah ia semakin rutin menjalani hobinya, seperti mendaki Gunung Semeru dan hiking ke Bromo. Setahun di Indonesia, ia pun kembali melanglang dunia melalui posisi barunya di Schlumberger Dubai. Kali ini karirnya beralih ke bidang Finance, sebagai Internal Auditor dan Controller. Di Dubai, ia bergabung di komunitas trekking and mountain climbing, dan bersama beberapa orang dari komunitas ini, ia menjajaki beberapa gunung di Uni Arab Emirat, Oman, Jepang, Inggris, Switzerland, hingga Tanzania. Teman-temannya memang cukup serius dalam menjalani hobi ini, sehingga ia pun semakin termotivasi.

 

“Dubai itu kecil, tapi inspirasi dan mimpi-mimpi penghuninya besar-besar”, katanya. “Perempuan Saudi Arabia pertama yang berhasil mendaki Everest dan Seven Summit tinggal di Dubai, Orang Arab yang pertama yang berhasil menyelesaikan The Explorers Grand Slam dan sekarang bahkan mendapatkan kesempatan untuk ikut percobaan ke Planet Mars juga tinggal disana”, lanjutnya.

“Ide Jelajah Putri munculnya saat di sana, cuma namanya berbeda waktu itu” ungkapnya. Selama di Dubai, Putri aktif mengikuti kegiatan di Gulf For Good (GFG), non-profit organization yang kegiatan intinya adalah charity climb, dimana kegiatan mendaki selalu dibarengi kegiatan sosial.

 

Hal ini membuatnya teringat kembali pada kegiatan kemahasiswaan yang sering dilakukannya di bangku kuliah. “Kalau diamati, sebenarnya di Indonesia dari dulu kelompok pecinta alam sering banget melakukan hal ini, petualangan yang dibarengi kegiatan sosial, termasuk KAPA-FTUI. Namun, pengemasannya berbeda, dan kita nyebutnya gak charity climb. Jadi sebenarnya apa yang saya lakukan di proyek Jelajah Putri bukanlah hal baru, tapi hal yang sudah lama saya lakukan sejak dulu, hanya skala nya jauh lebih besar, baik dari segi penjelajahannya, maupun dari segi kegiatan sosialnya”, jelasnya.

 

Proyek Jelajah Putri ini membawa misi pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Ia ingin menyampaikan, bahwa perempuan juga bisa mengambil peran dalam hobi, lingkungan pendidikan, ataupun pekerjaan yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki. Lebih jauh lagi, ia menekankan, siapapun mempunyai kesempatan untuk terlibat dalam segala hal jika mau berusaha dan tidak membatasi diri hanya dalam zona nyaman. Ia mencontohkan, seperti hobinya berolahraga banyak dampak positifnya. “Kalau itu positif dan bisa membawa kita kearah yang lebih baik, just do it”, katanya.

 

“Bermimpilah setinggi-tingginya, sebesar-besarnya, segila-gilanya, lalu berusahalah sekeras-kerasnya untuk mencapai mimpi-mimpi tersebut. Yang paling penting adalah komitmen, konsistensi, dan tidak mudah menyerah, walaupun ada saatnya kita tidak tau jalannya akan seperti apa”, pesannya.

 

Terakhir, Putri berpesan agar Ikatan Alumni Matauli (IKAMA) selalu guyub. “Ikatan alumni ini paguyuban, yang penting jaga dan pererat silaturahmi dulu. Timbulkan rasa percaya dan kebersamaan, dari sana baru kita kemudian bisa mencetuskan ide-ide untuk membesarkan IKAMA ini,” tutupnya. (Kris)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top